Pengawasan Perlu Diperketat, Masyarakat Bawah Rentan Terkena Dampak Buruk Air Tanah

JAKARTA, KOMPAS - Kualitas air tanah di Jakarta yang kian buruk tak diimbangi dengan upaya pembatasan pengambilan air tanah. Padahal, penyedotan air berlebih bisa membuat kualitas air semakin turun. Pemerintah dituntut mengefektifkan pengawasan dan pembatasan air tanah.

Berdasarkan pantauan di lapangan. Kamis (7/1), sejumlah warga di Jakarta Utara dan Jakarta Barat tetap memanfaatkan air tanah meski telah berlangganan layanan air perpipaan. Sebagian mengaku sudah memiliki sumur sebelum mendapat layanan air PAM.

"Air sumur tetap saya pakaL Kalau air (PAM) tidak mengalir, pasti (air sumur) dipakai untuk nyuci nyiram. Kalau untuk diminum sudah tidak, rasanya anta, rasanya sudah lain. " ucap Jukri Mahilan (70), warga RT 005 RW 012 Penjaringan, Jakarta Utara.

Padahal, kata Jukri, air sumur terbuka dengan kedalaman sekitar 7 meter di depan rumahnya itu dulunya bagus dan bisa dipakai memasak. Namun, menjelang tahun 2000-an, airnya sudah tak bagus lagi.

Senada dengan Jukri, Barsinih (53), warga RT 001 RW 002, Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, tetap menggunakan air sumur di rumahnya untuk membilas dan mencuci. Terutama kalau air PAM tidak mengalir. Itu pun tak dipakai mandi, gatal-gatal, " ucap ibu lima anak ini.

Sementara pantauan di Rusunawa Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat, menunjukkan, warga setempat masih bergantung pada air tanah karena jaringan air perpipaan belum menjangkau mereka. Padahal, air di rusun tersebut keruh dan terbukti mengandung zat organik kalium permanganat (KMnO4) di luar ambang batas yang membuat pemakainya menderita gatal-gatal.

Sarah (39), penghuni Blok I Rusunawa Daan Mogot, mengatakan, air yang mengalir di unit-unit rusun berwarna coklat keruh. "Kami enggak pernah menggunakannya untuk mema-sak karena airnya keruh, seperti teh. Kalau untuk memasak, kami membeli Rp 3000-Rp 4000 per galon, " ujar Sarah, kemarin.

Direktur Utama PD PAM Jaya Erfan Hidayat mengakui, keterbatasan air baku menghambat perluasan cakupan layanan air bersih perpipaan. Sejak 1997, pasokan air baku minum untuk DKI Jakarta tak pernah bertambah, yakni pada kisaran 18.000 liter per detik. Mayoritas air baku berasal dari Waduk Ir H Djuanda di Purwakarta, Jawa Barat, dan sekitar 4 persen dari Sungai Krukut Mutu air sungai lain umumnya tidak memenuhi syarat baku mutu air minum.

Selain berencana menambah pasokan air dan sambungan baru, kata Erian, pihaknya juga merekomendasikan pengetatan pengawasan atas penyedotan air tanah di wilayah yang sudah terlayani air bersih perpipaan. Be-berapa bulan terakhir, misalnya, wilayah yang sudah terjangkau pipa PAM tetapi masih ada pemakaian air tanah dalam adalah Kayuputih (Jakarta Pusat), Pulogadung, Jatinegara, Pondok Bambu (Jakarta Timur), Sunter Jaya, dan Pegangsaan Dua (Jakarta Utara).

Kepala Badan Pengelola lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta Junaedi menambahkan, izin dan pengawasan atas penyedotan air tanah di Jakarta kini menjadi kewenangan Dinas Tata Air DKI Kini selain memperketat pengawasan. Pemprov DKI Jakarta juga menghentikan izin penyedotan air tanah. Pembatasan dimulai secara bertahap dari wilayah utara ke selatan.

Daya larut berkurang

Rachmat Fajar Lubis dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) menyampaikan, pengambilan air tanah yang terus-menerus dan berlebih membuat kualitas air menurun. Daya larut air dalam tanah berkurang karena tersedot keluar sehingga membuat kandungan senyawa berbahaya lebih tinggi.

"Akhirnya kualitas air menurun, sementara pengambilan air terus-menerus terjadi. Kalau tidak dibatasi, tentu semakin lama semakin rusak dan berkurang. Rongga dalam tanah yang dulunya diisi air juga memadat sehingga membuat lapisan tanah di atas turun, " ucapnya.

Arief Daryanto, Kepala Seksi Pengembangan Teknologi Konservasi Air Tanah Balai Konservasi Air Tanah Kementerian ESDM, menyampaikan, kualitas air yang tak memenuhi baku mutu bisa terjadi secara alamiah dan tak alamiah. Alami karena batuan dalam tanah memiliki kandungan senyawa yang bisa melarut dalam air.

Tetapi, kalau mau dilihat secara detail lagi, tentu kita bisa prediksi apakah air itu tercemar atau terintrusi Apalagi kalau pengambilan air tanah berlebih juga terus dilakukan. Semakin disedot volume air berkurang, sementara intrusi dan pencemaran tetap terjadi, " katanya.

Sebelumnya, pemantauan air tanah di cekungan air tanah (CAT) Jakarta oleh Balai Konservasi Air Tanah Kementerian ESDM tahun 2015 menunjukkan, sebagian besar air tanah, baik di akuifer bebas maupun tertekan, tak memenuhi standar baku mutu secara kimiawi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Dihubungi terpisah. Nila Ardhieani dari Amrta Institute for Water Literacy mengungkapkan, penggunaan air tanah di Jakarta masih sangat besar. Bahkan, jika dihitung secara kasar, pemakaian air tanah di Jakarta sekitar 319 juta meter kubik.

"Hampir sama dengan pasokan air oleh PAM Jaya yang mencapai 318 juta meter kubik pada 2014. Masalahnya, kualitas air tanah di Jakarta sudah tak memadai Air tanah telah banyak yang tercemar sehingga berpotensi menimbulkan dampak bu ruk terhadap kesehatan bagi yang mengonsumsi, " ucap Nila.

Dampak buruk ini tentunya menyasar masyarakat bawah. Akhirnya, tingkat kesehatan dan produktivitas masyarakat semakin rendah. (JAiyDEA/KrS/MKN)
Sumber : Kompas, edisi 8 Januari 2016. Hal: 7

Sumber: 
https://lipi.go.id/lipimedia/pengawasan-perlu-diperketat-masyarakat-bawah-rentan-terkena-dampak-buruk-air-tanah/12387